Archive for August, 2006

Milih ngayal apa ngimpi?

Thursday, August 24th, 2006

Mau sedikit cerita neh, beberapa minggu yang lalu, saya sempat "ditampar" oleh salah seorang temen deket saya, Nanang, yang saat ini menjadi aktivis LSM dan juga penyanyi nasyid. Dia cerita tentang salah satu episode dakwah Ust. Jefri Al Bukhori yang diawali dengan kata-kata kurang lebih demikian :

"Orang cenderung berkhayal dan tidak bermimpi. Orang yang berkhayal cenderung hanya berangan-angan hal yang diinginkannya dan berharap hal tersebut dapat tercapai dengan sendirinya. Sementara orang yang bermimpi, berusaha mewujudkan impiannya itu melalui kerja keras, sehingga impiannya itu pun dapat tercapai."

Lalu dari situ saya juga mikir beberapa hal yang saya inginkan, apakah saya ini cuman ngayal aja ato ngimpi ya? Saya sering banget pengen suatu hal, kadang muluk-muluk banget, tapi usahanya cekak. Nggak berusaha bener-bener supaya hal tersebut bisa terwujud. Tapi klo menurut saya, ngayal juga gak sepenuhnya salah, siapa tahu ngayal itu bisa jadi bibit mimpi, yang kemudian dengan sungguh-sungguh kita usahakan perwujudannya di dunia.

Masih soal ngimpi, saya seneng denger orang klo lagi cerita impiannya, kadang pengen banget bisa mbantu mewujudkan impiannya, dan ketika terwujud, saya juga ikut merasakan kebahagiannya itu. Sebagaimana beberapa waktu yang lalu, saya dan sobat karib saya Iponk, merasa bahwa, ketika anak-anak kita(murid debat maksudnya) menjadi juara dalam suatu kompetisi, perasaan bangga dan bahagianya melebihi ketika kita sendiri yang menjadi juara dalam kompetisi tersebut. Mungkin begini kali ya perasaan orang tua kalo ada anaknya yang sukses….deu serasa jd orang tua. Tapi sisi lainnya jadi pengen juga bahagiain orang tua.

Saya jadi inget salah satu hadits yang pernah saya baca(lupa siapa perawinya, klo nanti ketemu artikel ini saya edit deh): "Perbaikilah dirimu sendiri, niscaya Allah akan memperbaiki hidupmu". Buat saya hadits ini keren banget, gak usah deh kita berusaha mengubah orang lain, temen, lingkungan kita, klo kita masih ogah ngubah diri kita sendiri menjadi lebih baik. Trus hubungannya dengan topik artikel ini? Ya….mungkin kita bisa mulai merubah khayalan kita menjadi suatu mimpi, kemudian bikin rencana untuk mewujudkannya, dan berusaha sungguh-sungguh. Tidak dengan meminta orang lain untuk mewujudkannya untuk kita. Sering ngerasa gak? Ketika ada orang lain berusaha sungguh-sungguh mewujudkan impiannya, kita jadi pengeeen banget bantu dia, tanpa orang itu meminta. Kayak seolah-olah usahanya itu menarik hati kita untuk turut membantu. Itu, buat saya adalah pelajaran berharga yang mengajarkan untuk berusaha sungguh-sungguh pada apa yang kita inginkan.

So, in the end, what is your dream?

Kamu koq galak banget sih!

Monday, August 7th, 2006

Hehehe….Judul diatas diucapkan seorang teman tadi malam, lalu
sebage respon membela diri, saya bilang "lha kamu dibantuin malah
ngerjain" :p.

Setiap orang boleh dong kasi pendapat soal kita,
termasuk juga teman saya di atas, mau dibilang galak, judes ato apa aja
boleh koq, sah sah aja, karena dalem lubuk hati saya (ciee…) saya
pengen jujur soal siapa saya sebenernya, apa adanya, saya juga harus
siap menerima pendapat tentang saya, positif ato negatif. Dan
pendapat-pendapat tersebut bisa jadi masukan buat saya, tentang apa
yang orang rasakan soal saya, apakah akan dirubah, ato akan
dipertahankan, sebagai bagian dari diri saya.

Dari sudut pandang
lain, entah ini egoisme atau idealisme, saya berusaha untuk tidak
melulu menyesuaikan diri saya sebagaimana yang diinginkan orang lain,
dengan kata lain saya terkadang bisa jadi keras kepala :D. Saya inget
satu cerita tentang Ayah, anak dan keledainya (yang udah pernah baca
dilewatin aja cerita di bawah). Daripada ngetik lagi mendingan copy
paste aja dari http://storypalace.ourfamily.com/iihid003.html

——————————————————————————————————————
Ayah, Anak, dan Keledai


Suatu ketika seorang laki-laki beserta anaknya membawa seekor keledai
ke pasar. Di tengah jalan, beberapa orang melihat mereka dan menyengir,
"Lihatlah orang-orang dungu itu. Mengapa mereka tidak naik ke atas keledai itu?"

Laki-laki itu mendengar perkataan tersebut. Ia lalu meminta anaknya naik
ke atas keledai. Seorang perempuan tua melihat mereka, "Sudah terbalik
dunia ini! Sungguh anak tak tahu diri! Ia tenang-tenang di atas keledai
sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan."

Jadi kali ini, anak itu turun dari punggung keledai dan ayahnya yang naik.
Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan seorang gadis muda.
"Mengapa kalian berdua tidak menaiki keledai itu bersama-sama?"

Mereka menuruti nasehat gadis muda itu. Tak lama kemudian sekelompok orang
lewat. "Binatang malang…. ia menanggung beban dua orang gemuk tak berguna.
Kadang-kadang orang memang bisa sangat kejam!"

Sampai di sini, ayah dan anak itu sudah muak. Mereka memutuskan untuk
memanggul keledai itu. Melihat kejadian itu, orang-orang tertawa terpingkal-
pingkal, "Lihat! Manusia keledai memanggul keledai!" sorak mereka.


Jika Anda berusaha menyenangkan semua orang, Anda tak akan
menyenangkan siapa pun.

—————————————————————————————————————
Saya sepakat banget dengan kalimat terakhir diatas. "Jika anda berusaha
menyenangkan semua orang, Anda tak akan menyenangkan siapa pun". Tapi
kalo hidup semau diri sendiri rasanya juga gak pas. Trus gimana donk?
Kalo saya sih kalopun ada pihak yang harus saya senangkan maka itu buat
saya adalah Allah, maksudnya disini berusaha apa yang kita lakuin
di-ridhoi oleh-Nya, terserah apa kata orang. Trus tahunya Allah dah
ridho apa belum? Disini pentingnya belajar agama(duh dah lama banget
gak denger kajian neh..).

Well, itu aja dulu deh, perenungan ini bakal saya tutup dengan sebuah kalimat dari Pete Wentz, bassistnya Fall Out Boys :

“There’s something really honorable about following your own path and not doing what’s expected of you.”